BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Desa sekoto merupakan sebuah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Pare Kabupaten Kediri. Desa sekoto memiliki beberapa keunikan-keunikan untuk dipelajari karena desa ini sangat heterogen sosial budayanya. Wilayah yang luas dengan jumlah penduduk yang sangat sedikit serta sistem pengetahuan yang dimiliki di bidang pertanian dan perbedaan antara santri, priyayi, abangan dan orang susah menjadi suatu daya tarik tersendiri untuk dipelajari dan diteliti.
Dilihat dari letak geografis Desa Sekoto merupakan wilayah yang sangat subur. Desa Sekoto memiliki lahan pertanian yang sangat luas dan dapat ditanami berbagai macam atau jenis tanaman misalnya padi, sawi, kangkung, kubis, ketela, cabe namun desa Sekoto memiliki komoditas hasil pertanian yang terbesar adalah tanaman bawang merah. Dengan mengendalikan pengairan dari irigasi dari sumur bor pemerintah, peralatan pertanian yang semi moderen dan penyuluhan dari pemerintah ataupun perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap pertanian di Sekoto menjadi lebih berkembang lagi.
Desa Sekoto juga memiliki sejarah yang sangat menarik untuk dipelajari, karena desa Sekoto merupakan bekas wilayah kerajaan mojopahit. Selain itu di wilayah Sekoto mempunyai sejarah tentang organisasi G30S PKI serta memiliki peninggalan-peninggalan sejarahyang sampai sekarang masih ada dan dilestarikan oleh masyarakat desa. Hal itulah yang membuat kelompok kami ingin meneliti dan mempelajari desa Sekoto. Semoga dari hasil penelitian ini bisa bermanfaat bagi masyarakat dan mahasiswa.
B. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini kami dapat merumuskan berbagai masalah-masalah penelitian antara lain :
1. Bagaimana sistem pengetahuan dalam pengolahan lahan pertanian di Desa Sekoto Kecamatan Pare Kabupaten Kediri?
2. Bagaimana pengaruh letak Geografis desa pada sistem pengetahuan pertanian masyarakat Sekoto?
3. Bagaimana hubungan antara sejarah desa dengan letak geografi?
C. Tujuan Penelitian
Dengan diselenggarakannya perkuliahan luar kelas di desa Sekoto Kecamatan Pare mempunyai beberapa tujuan yakni :
1. Untuk Mahasiswa
a. Mahasiswa mencoba belajar mengaplikasikan ilmu yang dipelajari dan diperolehnya dari bangku perkuliahan.
b. Membentuk mahasiswa yang berkarakter dan berkepribadian
c. Memperluas wawasan budaya nasional Indonesia
2. Untuk Mahasiswa
a. Masyarakat dapat mengetahui sistem pengetahuan tentang pertanian pada Desa Sekoto Kecamatan Pare
b. Dapat mengetahui dan memahami sejarah dan letak geografi dari desa Sekoto Kecamatan Pare
c. Masyarakat dapat mengetahui pengaruh letak geografis terhadap sistem pengetahuan pertanian di desa Sekoto Kecamatan Pare
D. Manfaat Penelitian
Dengan diselenggarakan perkuliahan luar kelas mata kuliah pengantar antropologi di desa Sekoto Kecamatan Pare dapat memperoleh manfaat diantaranya :
1. Masyarakat dapat mengetahui ganbaran geografis, sejarah, sistem pengetahuan dan kondisi sosial budaya masyarakat Sekoto
2. Memberikan pengetahuan mahasiswa serta memperkaya kajian tentang sistem ilmu pengetahuan dalam antropologi
3. Mengaplikasikan teori-teori yang sudah diperoleh peneliti dalam perkuliahan
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Teori Kebudayaan
1.Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, yang isinya adalah perangkat-perangkat model pengetahuan, yang secara selektif digunakan oleh para pendukung atau pelakunya untuk menginterpretasikan dan memahami lingkungan yang dihadapi, dan digunakan sebagai referen atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.(Suparlan, 1986:106).
2.Kebudayaan berarti suatu pola makna yang ditularkan secara historis, yang dijawentahkan dalam simbol-simbol, suatu sistem konsep yang diwarisi, terungkap dalam bentuk simbolis yang menjadi sarana manusia untuk menyampaikan, mengabdikan, dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang serta sikap-sikap mereka terhadap hidup.(Geertz dalam Dillistone, 2002:115).
Dengan memusatkan perhatian pada simbol-simbol keagamaan atau yang suci, Geertz memberikan paradigma ini : simbol keagamaan berfungsi mensintesiskan etos suatu bangsa, nada, watak, mutu hidup mereka, gambaran yang mereka punyai tentang cara ikhwal apa adanya, gagasan-gagasan mereka yang paling komprehensif tentang tatanan. Cara hidup dan pandangan hidup saling melengkapi, kepar kali melalui suatu bentuk simbolis. Hal ini memberikan gambaran tatanan yang komprehensif dan pada waktu yang sama mewujudkan pola sintesis perilaku sosial. Ada kongruensi atau kesesuaian antara gaya hidup dan tatanan universal dan hal ini terungkap dalam sebuah simbol yang terkait dengan keduanya.
3.Ada 3 hal nilai yang didasari oleh masyarakat Jawa dalam melakukan gotong royong ketiga tata nilai itu, pertama, bahwa orang itu harus sadar bahwa hidupnya selalu bergantung orang lain. Seseorang tidak dapat hudup sendiri dan untuk itulah seseorang harus menjalin hubungan baik dengan siapa pun. Kedua, orang itu harus selalu bersedia membantu sesamanya dan yang ketiga, orang itu harus bersifat konform, artinya orang harus selalu ingat bahwa seseorang sebaiknya jangan berusaha menonjol atau melebihi orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ketiga ini sejalan dengan manajemen gamelan bila mengiringi gendhing tidak baik bila salah satu mendominasi instrumen yang lain. (Koentjaraningrat dalam Bratawijaya,1997:82-83).
Berkaitan dengan penelitian ini, permainan gamelan adalah suatu obyek, tindakan, peristiwa yang berperan sebagai wahana yang memiliki makna simbol dan nilai-nilai berupa pedoman yang memberi arah terhadap hidup termasuk aturan-aturan untuk bertindak yang bersifat khusus serta jelas. Selain itu untuk menelaah nilai-nilai yang dapat menunjang terbinanya pergaulan untuk suatu penyampaian kepada masyarakat meskipun secara lisan. Permainan gamelan ini merupakan suatu kerjasama yang dilakukan oleh beberapa orang untuk menciptakan suara musik yang harmonis. Hal ini juga tercermin di dalam kebudayaan Jawa yang memiliki prinsip gotong royong atau kerjasama yang dilandasi adanya kerukunan hidup untuk membina pergaulan di masyarakat. Tanpa kerukunan semua anggota masyarakat, tidak mungkin gotong royong dapat terwujud.
4.Teori Interaksi Simbolik
Interaksi simbolik didasarkan pada tiga premis :
1. Manusia bertindak terhadap sesuatu atas makna yang dimiliki sesuatu atau benda-benda tersebut bagi mereka.
2. Makna merupakan suatu produk sosial yang muncul dalam proses interaksi antar manusia.
3. Makna-makna dimodifikasikan dan berlangsung melalui suatu proses penafsiran yang digunakan setiap individu dalam keterlibatannya dengan tanda-tanda yang dihadapinya. (Blumer, Herbert, 1969:1-60 dalam Craib,1994:112).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Sifat Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah metode etnografi. Metode etnografi merupakan suatu metode penelitian tentang suatu suku bangsa khususnya dalam penelitian ini adalah suku jawa. Dan bertujuan untuk menangkap sudut pandang dari para anggota paguyuban penggemar musik gamelan yang ada hubungannya dengan kehidupan dan dunianya. Oleh karena itu, peneliti etnografi mendeskripsikan suatu kebudayaan dan memahami suatu pandangan hidup dari suatu sudut pandang masyarakat yang diteliti dengan menggunakan istilah dan bahasanya sendiri.
Dalam hal ini yang diteliti adalah makna keselarasan musik gamelan dan nilai yang terdapat di dalamnya yang diinginkan oleh paguyuban seni karawitan.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam waktu 3 bulan, di mulai dari bulan Januari 2008 sampai dengan bulan Maret 2008.
Penelitian ini dilakukan di dua lokasi yaitu:
1).Sanggar Pakuwon Alit, di jalan Diponegoro nomor 68, Lelurahan Dr. Soetomo, Kecamatan Tegalsari, Kotamadya Surabaya.
2).Paguyuban Penggemar Seni Karawitan Renja Swara, Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur, di jalan Pahlawan nomor 102-108, Kotamadya Surabaya.
Peneliti mamilih lokasi ini karena:
1).Sanggar Pakuwon Alit merupakan suatu tempat berkumpulnya para anggota paguyuban penggemar musik gamelan yang memiliki jadwal latihan yang intensif sehingga peneliti dapat memperoleh data yang lengkap dan akurat mengenai usulan proposal ini.
2).Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur merupakan suatu badan yang memiliki dan sarana bagi para penggemar seni budaya tradisional Jawa khususnya seni Karawitan untuk berkumpul dan berlatih bersama, sehingga pewarisan seni Karawitan kepada generasi berikutnya tetap dapat dilakukan.
C. Subyek Penelitian
Dalam penelitian etnografi mengenai makna dan nilai dalam permainan gamelan ini diteliti menggunakan informan sebagai sumber informasi penelitian. Beberapa informasi yang telah ditentukan antara lain:
1.3 pelatih karawitan di Paguyuban Anggono Sari dan Paguyuban Renja Swara, yaitu Pak Slamet Raharjo, Pak Pitono, dan Pak Djarwanto.
2.1 orang petugas kelurahan Dr. Soetomo, yaitu Pak Hamzah Fagri.
3.1 orang koordinator Paguyuban Renja Swara, yaitu, Drs. Sugiri Soegir, Mm.M.Si
4.orang pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi, yaitu Pak Edi Agustanto dan Pak Suwarno.
5.1 orang pengikut atau pembantu yang bekerja di sanggar pakuwon Alit, yaitu Pak No.
6.1 orang Dosen Pengajar Sekolah Tinggi Karawitan Surabaya, yaitu Pak Subroto.
Dari sembilan informasi di atas peneliti berusaha untuk mencari dan mendapatkan informasi kunci (key informan) yang peneliti anggap paling banyak mengetahui dan memberi informasi tentang permainan musik gamelan serta makna dan nilai yang terkandung didalamnya, yaitu seorang koordinator paguyuban penggemar seni Karawitan Renja Swara Badan Perencanaan Pembangunan Jawa Timur.
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam usaha untuk mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, guna memperoleh gambaran mengenai gejala atau fenomena sosial budaya, baik dalam tingkah laku maupun yang disampaikan secara lisan dan tertulis. Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :
1.Observasi partisipasi
Observasi partisipasi atau pengamatan terlibat artinya peneliti ikut membaur dengan obyek penelitian. Pembauran ini harus menyatu sehingga masyarakat yang menjadi obyek tidak merasa bahwa mereka sedang diteliti. Hal-hal yang diamati dalam penelitian ini antara lain berupa benda-benda atau alat-alat yang digunakan dalam penelitian gamelan dan perilaku para pemain gamelan.
2.Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan untuk mendapatkan informasi mengenai apa yang mereka ketahui, terutama bagi mereka mengenai sesuatu yang tidak dapat kita peroleh dengan observasi. Wawancara yang dilakukan saat pertama kali dengan informasi berupa pertanyaan-pertanyaan umum atau grand tour, misalnya pertanyaan mengenai keadaan sanggar seni. Hal ini dilakukan guna membina rapport atau hubungan baik dengan informan sehingga pada wawancara yang berkaitan dengan penelitian, informan bisa terbuka karena sudah mengenal peneliti. Wawancara dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa pedoman wawancara. Pedoman wawancara bersifat terbuka sehingga dimungkinkan adanya jawaban yang bervariasi. Jawaban ini penting dengan tujuan agar dapat menggambarkan secara lengkap perilaku para pemain gamelan.
3.Sekunder.
Mengumpulkan data-data yang lain, misalnya berbagai buku yang ada dan juga monografi lokasi penelitian dan informasi dari tokoh masyarakat untuk mendapatkan gambaran tentang keadaan sosial budaya masyarakat setempat.
E. Teknik Analisis Dat
Analisis data dilakukan setelah informasi dari hasil wawancara di transkrip. Transkrip yang dilakukan bersifat keseluruhan, artinya setiap kalimat informan akan ditulis secara detail dan menyeluruh. Selain melihat dari hasil wawancara analisa data juga tidak bisa terpisahkan dengan melihat catatan di lapangan.
Field note berupa catatan tentang hasil observasi, hasil wawancara dan segala perilaku informan dan apa saja yang terjadi pada saat wawancara berlangsung dengan melihat catatan di lapangan dan hasil wawancara maka dilakukan suatu analisis.
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. SEJARAH DESA
Pada mulanya wilayah ini merupakan daerah hutan belantara yang dikuasai oleh kerajaan Kediri. Sekitar tahun 1800-an orang-orang Mataram Islam melakukan eksodus dari Jawa Timur. Salah satu tempat yang dituju adalah wilayah desa Sekoto. Pada waktu itu desa Sekoto “dibabat” oleh keluarga demang Surogolo. Demang Surogolo mempunyai anak yang bernama Mbah Sangu. Mbah Sangu adalah pelaku utama yang babat desa Sekoto.
Pada mulanya desa Sekoto dinamakan desa “Poh Kondang” karena pada waktu itu masa pemerintahan hindia belanda terjadi wabah penyakit yang menyerang sapi, namun penyakit tersebut tidak diketahui oleh warga jenis penyakitnya, kemudian warga berinisiatif untuk mengumpulkan sapi yang sakit tersebut pada tempat yaitu di bawah “pohon kepuh” dan disitu terdapat sumur tempat minum sapi yang sakit. Kejadian itu berlangsung cukup lama, yang mengakibatkan warga menyebutnya “desa Poh Kandang” yang berasal dari kata pohon kepuh dan kandang (rumah sapi). Dan harapannya adalah supaya desa tidak terserang oleh wabah penyakit lagi.
Asal mula desa Sekoto adalah dari cerita wayang Purwo. Diceritakan tokoh dursosono tangan-tangannya hilang karena dibawa oleh burung Gagak putih yang terbang dan akhirnya burung gagak tersebut hinggap di pohon asem kembar atau warga tersebut menyenut pohon asem petok. Dimana pohon asem tersebut memiliki rasa yang berbeda, yang satu sangat asam dan yang satu rasanya asam kemanis-manisan, kemudian tokoh Dorsosono menagis “misek-misek” karena tangannya hilang kemudian datanglah tokoh lain berkata “besok rejaning jaman deso iki tak jenengake Sekoto” (besok ramainya zaman desa ini saya beri nama Sekoto), atau dalam keroto bahasa Jawa sekoto berasal dari kata “wonge sesek angel ditoto” (orang-orang paadat sulit ditata).
Implementasi dari keroto basa ini adalah peristiwa G30 S PKI, dimana desa Sekoto merupakan daerah basis pemberontakan PKI pada waktu itu mereka ikut dalam gerakan tersebut karena mereka ingin satu keadilan ditegakkan karena kesenjangan sosial yang sangat mencolok pada awl berdirinya esa Sekoto mata pencaharian yang paling besar adalah pertanian walaupun sudah ada yang berdagang tapi perdagangan disini tidak sampai 10%.
Tradisi yang sampai saat ini masih dijalankan di desa Sokoo adlah bancaan, Ngeluri desa atau bersih desa. Pada bulan selo (dulkangidah) dan bulan syuro (muharrom) yang biasanya pada hari jumat pon dan jumat legi yakni mengadakan kirim doa ke lembah sangu, dengan membawa tumpeng dan ayam ingkung desa ini merupakan desa yang patuh terhadap adat istiadat walaupun tidak punya uang tetap melakukan bersih desa (slametan) pada hari saat hari raya mereka tidak perlu membeli baju baru tetapi kalau bersih desa mereka beli baju baru.
Kebudayaan asli dari desa Sekoto adalah jaranan, ritual menyambut bulan Ramadhan yaitu “megengan” yang merupakan tradisi dari desa ini, desa Sekoto penduduknya banyak bertani karena desa ini subur dan yang mengatur adalah petani yang tekun yang sesuai dengan ketentuannya akan menghasilkan pertanian yang baik hasil pertanian (pada musim hujan adalah padi, bawang merah dan sayur), (pada musim kemarau adalah sawi atau palawija). Keuntungan petani yang paling banyak adalah pada musim hujan. Irigasi berasal dari sumber, tetapi bukan dari bendungan karena sejak dulu mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa bendungan, tetapi tidak jadi karena sejak dulu mendapat kan bantuan dari pemerintah berupa bendungan tetapi tidak jadi karena salurannya rusak dan sumber tersebut dibagi oleh kelompok dengan membayar sejumlah uang.
B. BATAS-BATAS DESA
Desa Sekoto mempunyai batas-batas sebagai berikut :
Arah
Nama desa
Utara
Desa Tunglur Kecamatan Pare
Selatan
Desa Bringin Kecamatan Pare
Barat
Desa Punjarak Kecamatan Pemahan
Timur
Desa Tunglur Desa Bringin Kecamatan Pare
C. KONDISI GEOGRAFIS
DesaSekoto merupakan desa yang sangat subur mempunyai lahan pertanian yang sangat luas. Pada masalah pertanian masyarakat Sekoto mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Bahkan kata kepala desa Sekoto tahun yang akan datang akan dijadikan pusat agronomi pertanian oleh Kabupaten Kediri. Agronomi itu tidak hanya untuk suplay Pare saja namun sampai kota-kota besar
Bantuan dari pemerintah yang sekarang sudah tampak yaitu pembuatan sumur bor yang dibiayai oleh pemerintah. Sumur bor digunakan untuk mengairi lahan pertanian di desa Sekoto. Desa Sekoto memang mempunyai saluran irigasi tersebut tidan cukup untuk mengairi semua lahan yang ada di desa Sekoto kalau musim kemarau.
Dengan adanya sumur bor artesis dari pemerintah mata pencaharian masyarakat desa Sekoto bisa bercocok tanam secara terus menerus walaupun musim kemarau. Dari bantuan pemerintah itu maka petani di desa Sekoto tidak perlu takut lagi kalau gagal panen kalau kekurangan. Hal itulah , maka pendapatan petani meningkat. Agar tidak ada keributan antar warga Sekoto yang berkenaan dengan pengairan maka para petani dijadwal masalah pengairan tanamannya dan dikenakan biaya dengan per jamnya harus membayar Rp.10.000.
Petani desa Sekoto umunya menanam padi, sawi, terong, cabe, jagung, timun dan sebagai komoditas utama adalah bawang merah. Petani umumnya menjual ke tengkulak dan nanti akan di suplai ke kota-kota besar oleh tengkulak ke Surabaya. Desa Sekoto juga mempunyai industri rumah
BAB V
Hasil Temuan Data Dan Teknik Nalisis Data
Dari penelitian yang di adakan beberapa waktu lalu di desa Sekoto, kami menemukan bahwa sebelum desa ini dinamakan desa Sekoto, desa ini bernama desa “Pohkandang”.
Dalam fokus penelitian kami, kami menemukan bahwa mata pencaharian utama di desa ini adalah bertani dan pertanian utama yang terdapat di desa ini adalah pertanian bawang merah, selain itu juga terdapat padi, jagung, dan sawi. Dalam sistem pengetahuannya, pertanian desa sekoto telah menjadi lebih maju dengan sejumlah teknologi baru yang di pakai oleh para petani yang di dapatkan melalui pembelajaran dari luar maupun teknologi sederhana yang ditemukan sendiri oleh petani desa Sekoto.
Teknologi tersebut antara lain adalah penggunaan irigasi buatan yang menggunakan sumur bor diesel yang kini di seluruh Sekoto berjumlah lebih dari 180 buah sumur dimana para petani desa sekoto sangat tertolong dengan adanya sistem irigasi ini. Teknologi dalam irigasi ini membantu para petani dalam hal waktu di mana penggunaan irigasi ini secara bergantian dan 100 (1400 m2) pad lahan mereka hanya membutuhkan waktu 4 menit. Selain itu juga terdapat mulsa sejenis plastik yang berwarna perak yang digunakan dalam pertanian bawang merah, tomat, atau cabe. Teknologi yang digunakan dalam mulsa ini adalah mengurangi penguapan, pada tanah juga secara tidak langsung dapat membasmi hama.
Selain itu para petani dari desa Sekoto juga menemukan beberapa teknologi yang sangat membantu, salah satunya ialah ditemukannya cara menghilangkan hama tanpa obat-obatan yaitu dengan menyediakan lampu penerangan listrik dengan wadah berisi air sabun dibawahnya. Para petani desa Sekoto meyakini jika hama yang merusak tanaman menyukai cahaya dan akan terbang mendekati cahaya ter sebut dan kemudian masuk kedalam wadah yang berisi air sabun tadi dan mati, sehingga hal ini dapat membantu petani mengurangi penggunaan obat-obatan untuk mengurangi hama. Disamping beberapa teknologi baru tersebut, berikut adalah urutan cara bercocok tanam bawang merah dari awal penanaman , perawatan, hingga panen.
Tanah pada lahan tersebut di olah ( dicangkul) dan dikeringkan selama 1 minggu.
Di cangkul lagi 2 kali dan di keringkan lagi 5 hari.
Tanah di basahkan dan digembur kan kembali
Pemupukan dasar dengan takaran 150 kg/100 ru/1400 m2
Di garuk dengan ukuran tanaman kurang lebih 18 cm sampai 20 cm.
Benih di tancapkan pada tanah yang sudah siap (10 cm) (benih yang telah disimpan selama 3 bulan , yang telah dibuang daun dan akarnya dan di potong langsung dari tunasnya)
Pada musim kemarau, tanah harus dibasahi setiap hari
Bila tanaman tumbuh sempurna maka pada usia 12-15 hari pemupukan dapat dimulai
Pada setiap 3 hari disiram, dikeringkan, diberi pupuk dan kemudian dibasahi lagi.
Panen dapat dilakukan setelah 60 hari.
Pada musim kemarau usia tanaman dapat mencapai 70-75 hari dengan hasil panen 3-3,4 ton/100 ru/14 00 m2
Pada musim hujan dapat mencapai 1-1,5 ton/100ru/1400 m2
Setelah panen bawang dijemur selama 5 sampai 7 hari
Saat penyimpanan sebaiknya bawang diikat, agar tidak kontak langsung dengan tanah untuk menghindari pembusukkan.
Penduduk sekoto terutama para petani memiliki sejumlah kepercayaan yang di yakini dapat mempengaruhi pertaniannya, diantaranya adalah keprcayaan tentang cokbakal, yaitu semacam sesajen/seserahan yang disiapkan petani saat masa tanam, isi dari cokbakal ini sendiri antara lain bunga kendil, telur, ketan, air, kendi, padi dan uang logam Rp. 100,-, benda-benda tersebut mewakili doa mereka tentang kemakmuran dan kelancaran dalam penanaman dan panen mereka.
Beberapa petani masih memiliki kepercayaan tersebut dan sebagian lagi tidak, hal itu diakibatkan oleh sebagian lahan di sekoto telah dimiliki oleh orang-orang yang berasal dari Gondang dan dari daerah luar Kediri yang tidak lagi percaya pada hal-hal semacam demikian.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Desa Sekoto merupakan desa yang sangat subur, daerah ini mengalami surplus dan biasanya dikirim ke kota-kota besar. Karena petani dapat bercocok tanam tanpa menghiraukan musim. Di desa Sekoto tidak dijumpai sawah tadah hujan, dan mayoritas penduduknya menanam padi, bawang merah, sawi, cabe dan jagung.
Transportasi di desa ini menuju desa sangat mudah karena desa sekoto menjadi jalur penguhubung kekota besar, dan banyak sarana transportasi yang melewati desa sekoto bukanlah hal sulit jika ingin kekota besar. Beraneka ragam cerita rakyat dan sejarah yang terdapat di desa sekoto.
Desa sekoto juga mempunyai kesenian yang banyak dan mempunyai keanekaragaman budaya yang masih sangat kental. Selain itu masyarakat desa sekoto masih sangat menghormati leluhur desa bahkan mereka masih suka memberikan doa dimakam-makam leluhur desa.
A. Kritik dan Saran
Kami sadar bahwa kelompok ini di dalam menyusun laporan perkuliahan di luar kelas tepatnya di desa Sekoto masih banyak kekurangan karena terbatasnya waktu sehingga kelompok kami merasa masih banyak kekurangan maka dari itu, kami menerima semua saran dan kritik dari semua pihak supaya laporan ini menjadi lebih baik dan bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Bratawijaya, Thomas Wiyasa. 1997. Mengungkap dan Menganal Budaya Jawa, Pradnya paramita. Yogya
Koentjaraningrat , 1992. Bunga Rampai “Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan”, PT. Gramedia Utama. Jakarta
Koentjaraningrat , 1990 . Pengantar Ilmu Antropologi, PT. Rineka Cipta. Jakarta
Santoso, hadi. 1993. Gamelan Tuntunan Memukul gamelan . Edisi Revisi, Dahara pri ze. Semarang
Suparlan, Parsudi. 1986 . Kajian-kajian Antropologi Masa Kini. Suatu Bangsa Rampai, Ikatan kekerabatan Antropologi Universitas Indonesia (IKALPI) Jakarta
(http://www.jawa.palace.org//index.html)