BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masa
Sifat khas kebudayaan yang dimiliki masyarakat bisa diwujudkan dalam beberapa unsur yang terbatas dalam suatu kebudayaan, yaitu bahasa dan kesenian yang kuno. Selain itu sifat khas yang tersebar adalah adat dan kebiasaan dari setiap masyarakat yang mempunyai ciri sendiri : Menurut Koentjarningrat :
“Agar kebudayaan nasional dapat didukung oleh sebagian besar dari warga suatu negara, maka sebagai syarat mutlak sifatnya harus khas dan dapat di banggakan oleh warga negara yang mendukungnya (1993:108)”
Hal itu penn karena suatu kebudayaan nasional harus dapat memberi identitas pada warga negara tersebut. Selain itu sifat khas dan mutu merupakan unsur utama dari kebudayaan nasional Indonesia, yaitu kesenian. Kesenian dalam wujud kebudayaan dengan sangat jelas memperlihatkan keanekaragaman tradisi di tanah air kita. Disamping itu juga terdapat perbedaan-perbedaan kecil memperlihatkan ciri khas suatu kebudayaan dari bentuk dan perwujudan ini, seperti halnya seni pertunjukkan yang berpusat di keraton, permainan, hiburan, dan kesenian tradisional yang masih tetap hidup dan bertahan sampai saat ini mempunyai peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini dapat dipakai karena manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial yang secara naluriah ingin selalu bergaul dengan orang lain.
Dipandang dari cara sudut pandang kesenian sebagai ekspresi hasrat manusia akan keindahan itu dinikmati, menurut Koentjaraningrat (1985: 380-381)
ada 2 lapangan besar seni yaitu :
1. Seni rupa atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan mata
2. Seni suara atau kesenian yang dinikmati oleh masyarakat dengan telinga
Pada lapangan kesenian terdapat seni rupa dan seni patung, seni relief (termasuk seni ukir), seni lukis, serta gambar dan seni tari, seni musik ada yang vokal dan ada yang instrumentalia (dengan alat bunyi-bunyian) dan seni sastra. Lebih khusus terdiri prosa dan puisi. Suatu lapangan kesenian meliputi kedua bagian tersebut diatas adalah seni gerak atau seni tari, karena kesenian ini dapat dinikmati dengan mata maupun telinga. Akhirnya ada suatu lapangan kesenian yang meliputi keseluruhannya yaitu seni drama, kanena lapangan kesenian ini mengandung unsur-unsur dari seni lukis, seni musik, seni rias, seni sastra dan seni tari yang semuanya ditegaskan menjadi suatu kebulatan.
Kesenian seperti halnya musik gamelan adalah jalan satu bentuk kebudayaan yang dapat mewakili suatu keberadaan masyarakat yang beraneka ragam dalam pola perilakunya sehari-hari. Dalam sejarah kemanusiaan berbagai karya dan perilaku manusia bisa menjadi sumbangan pada terwujudnya suatu cara hidup yang memiliki ciri khas. Sehingga apa yang tampil sebagai perilaku karya manusia itu semakin kentara kaitannya dengan pandangan hidup tertentu yang dimiliki oleh kebersamaannya. Kondisi kebersamaan itulah yang nyata berpengaruh pada cara dan pandangan hidup yang berciri khas itu.
Masyarakat jawa adalah masyanakat yang fleksibel, adaptif, mempunyai jiwa seni yang tinggi seperti halnya seni musik gamelan seni dalam budaya jawa bukan hanya merupakan ungkapan keindahan. Tetapi juga mengandung suatu ajakan tertentu. Dalam masyarakat jawa bentuk kesenian musik tradisional gamelan adalah suatu kesenian yang mengandung makna dan nilai atau pandangan hidup yang dapat mempengaruhi pola perilaku kehidupan orang jawa. Keselarasan musik gamelan ini juga merupakan bentuk kesenian yang dapat menata segala kehidupan menjadi selaras. Keselarasan gamelan jawa menggambarkan pandangan hidup dan keseharian masyarakat jawa pada umumnya. Misalnya cara berbusana yang serasi (tidak kontras, tidak seronok, tidak selalu mencari perhatian). Keselarasan dalam berbicara meskipun sedang dalam emosi batin yang meledak-ledak. tetap berusaha santun dalam mengungkapkan isi hatinya. Ngonoyongono nanging aja ngono (begitu ya begitu tapi jangan begitu) adalah peribahasa jawa dalam mengungkapkan keselarasan dalam menahan emosi ( http://www.jawapalace.org//index.html.)
Gamelan merupakan hasil seni budaya asli bangsa Indonesia. Sejak dahulu hingga sekarang sangat digemari khususnya bagi masyarakat jawa. Gamelan merupakan seperangkat alat musik khas Indonesia yang kelengkapan instrumentnya dapat disejajarkan dengan simfoni orkestra di dunia barat.
Sebagaimana alat musik pada umumnya, gamelan merupakan hasil oleh budi manusia untuk mengungkapkan rasa etika atau rasa mencurahkan keindahan.
Keselarasan musik gamelan juga merupakan wujud dari kebersamaan masyarakat jawa yang mengutamakan kerukunan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka muncul permasalahan lain :
1. Apakah makna keselarasan musik gamelan jawa?
2. Nilai-nilai apakah yang ada di dalam makna keselarasan musik gamelan jawa?
3. Bagaimana kaitan antara makna dan nilai budaya jawa dalam keselarasan musik gamelan jawa dengan kehidupan sehari-hari?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah yaitu mendiskripsikan makna keselarasan musik gamelan jawa dan nilai budaya jawa yang terdapat dalam makna tersebut. Peneliti ini juga bertujuan untuk mencari kaitan antara makna dan nilai budaya jawa dalam keselarasan musik gamelan jawa dengan kehidupan sehari-hari anggota paguyuban.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian dalam masalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui nilai-nilai yang ada dalam makna keselarasan musik gamelan jawa.
2. Untuk mengetahui nilai-nilai yang ada dalam makna keselarasan musik gamelan jawa.
3. Untuk mengetahui kaitan antara makna dan nilai budaya jawa dalam keselarasan musik gamelan jawa dengan kehidupan sehari-hari.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Teori Kebudayaan
1. Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, yang isinya adalah perangkat-perangkat model pengetahuan, yang secara selektif digunakan oleh para pendukung atau pelakunya untuk menginterpretasikan dan memahami lingkungan yang dihadapi, dan digunakan sebagai referen atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi. (Suparlan, 1986:106).
2. Kebudayaan berarti suatu pola makna yang ditularkan secara historis, yang dijawentahkan dalam simbol-simbol, suatu sistem konsep yang diwarisi, terungkap dalam bentuk simbolis yang menjadi sarana manusia untuk menyampaikan, mengabdikan, dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang serta sikap-sikap mereka terhadap hidup. (Geertz dalam Dillistone, 2002:115).
Dengan memusatkan perhatian pada simbol-simbol keagamaan atau yang suci, Geertz memberikan paradigma ini : simbol keagamaan berfungsi mensintesiskan etos suatu bangsa, nada, watak, mutu hidup mereka, gambaran yang mereka punyai tentang cara ikhwal apa adanya, gagasan-gagasan mereka yang paling komprehensif tentang tatanan. Cara hidup dan pandangan hidup saling melengkapi, kepar kali melalui suatu bentuk simbolis. Hal ini memberikan gambaran tatanan yang komprehensif dan pada waktu yang sama mewujudkan pola sintesis perilaku sosial. Ada kongruensi atau kesesuaian antara gaya hidup dan tatanan universal dan hal ini terungkap dalam sebuah simbol yang terkait dengan keduanya.
3. Ada 3 hal nilai yang didasari oleh masyarakat Jawa dalam melakukan gotong royong ketiga tata nilai itu, pertama, bahwa orang itu harus sadar bahwa hidupnya selalu bergantung orang lain. Seseorang tidak dapat hidup sendiri dan untuk itulah seseorang harus menjalin hubungan baik dengan siapa pun. Kedua, orang itu harus selalu bersedia membantu sesamanya dan yang ketiga, orang itu harus bersifat konform, artinya orang harus selalu ingat bahwa seseorang sebaiknya jangan berusaha menonjol atau melebihi orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ketiga ini sejalan dengan manajemen gamelan bila mengiringi gendhing tidak baik bila salah satu mendominasi instrumen yang lain. (Koentjaraningrat dalam Bratawijaya, 1997:82-83).
Berkaitan dengan penelitian ini, permainan gamelan adalah suatu obyek, tindakan, peristiwa yang berperan sebagai wahana yang memiliki makna simbol dan nilai-nilai berupa pedoman yang memberi arah terhadap hidup termasuk aturan-aturan untuk bertindak yang bersifat khusus serta jelas. Selain itu untuk menelaah nilai-nilai yang dapat menunjang terbinanya pergaulan untuk suatu penyampaian kepada masyarakat meskipun secara lisan. Permainan gamelan ini merupakan suatu kerjasama yang dilakukan oleh beberapa orang untuk menciptakan suara musik yang harmonis. Hal ini juga tercermin di dalam kebudayaan Jawa yang memiliki prinsip gotong royong atau kerjasama yang dilandasi adanya kerukunan hidup untuk membina pergaulan di masyarakat. Tanpa kerukunan semua anggota inasyarakat, tidak mungkin gotong royong dapat terwujud.
4. Teori Interaksi Simbolik
Interaksi simbolik didasarkan pada tiga premis:
1.Manusia bertindak terhadap sesuatu atas makna yang dimiliki sesuatu atau benda-benda tersebut bagi mereka.
2.Makna merupakan suatu produk sosial yang muncul dalam proses interaksi antar manusia.
3.Makna-makna dimodifikasikan dan berlangsung melalui suatu proses penafsiran yang digunakan setiap individu dalam keterlibatannya dengan tanda-tanda yang dihadapinya. (Blumer, Herbert, 1969:1-60 dalam Craib,1994:1 12).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Sifat Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah metode etnografi. Metode etnografi merupakan suatu metode penelitian tentang suatu suku bangsa khususnya dalam penelitian ini adalah suku jawa. Dan bertujuan untuk menangkap sudut pandang dari para anggota paguyuban penggemar musik gamelan yang ada hubungannya dengan kehidupan dan dunianya. Oleh karena itu, peneliti etnografi mendeskripsikan suatu kebudayaan dan memahami suatu pandangan hidup dari suatu sudut pandang masyarakat yang diteliti dengan menggunakan istilah dan bahasanya sendiri.
Dalam hal ini yang diteliti adalah makna keselarasan musik gamelan dan nilai yang terdapat di dalamnya yang diinginkan oleh paguyuban seni karawitan.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam waktu 3 bulan, di mulai dari bulan Januari 2008 sampai dengan bulan Maret 2008.
Penelitian ini dilakukan di dua lokasi yaitu:
1) Sanggar Pakuwon Alit, di jalan Diponegoro nomor 68, Kelurahan Dr. Soetomo, Kecamatan Tegalsari, Kotamadya Surabaya.
2) Paguyuban Penggemar Seni Karawitan Renja Swara, Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur, di jalan Pahlawan nomor 102-108, Kotamadya Surabaya.
Peneliti memilih lokasi ini karena :
1) Sanggar Pakuwon Alit merupakan suatu tempat berkumpulnya para anggota paguyuban penggemar musik gamelan yang memiliki jadwal latihan yang intensif sehingga peneliti dapat memperoleh data yang lengkap dan akurat mengenai usulan proposal ini.
2) Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur merupakan suatu badan yang memiliki dan sarana bagi para penggemar seni budaya tradisional Jawa khususnya seni Karawitan untuk berkumpul dan berlatih bersama, sehingga pewarisan seni Karawitan kepada generasi berikutnya tetap dapat dilakukan.
C. Subyek Penelitian
Dalam penelitian etnografi mengenai makna dan nilai dalam permainan gamelan ini diteliti menggunakan informan sebagai sumber informasi penelitian. Beberapa informasi yang telah ditentukan antara lain:
1. 3 pelatih karawitan di Paguyuban Anggono Sari dan Paguyuban Renja Swara, yaitu Pak Slamet Raharjo, Pak Pitono, dan Pak Djarwanto.
2. 1 orang petugas kelurahan Dr. Soetomo, yaitu Pak Hamzah Fagri.
3. 1 orang koordinator Paguyuban Renja Swara, yaitu, Drs. Sugiri Soegir, Mm.M. Si
4. orang pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi, yaitu Pak Edi Agustanto dan Pak Suwamo.
5. 1 orang pengikut atau pembantu yang bekerja di sanggar pakuwon Alit, yaitu Pak No.
6. 1 orang Dosen Pengajar Sekolah Tinggi Karawitan Surabaya, yaitu Pak Subroto.
Dari sembilan informasi di atas peneliti berusaha untuk mencari dan mendapatkan informasi kunci (key informan) yang peneliti anggap paling banyak mengetahui dan memberi informasi tentang permainan musik gamelan serta makna dan nilai yang terkandung didalamnya, yaitu seorang koordinator paguyuban penggemar seni Karawitan Renja Swara Badan Perencanaan Pembangunan Jawa Timur.
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam usaha untuk mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, guna memperoleh gambaran mengenai gajala atau fenomena sosial budaya, baik dalam tingkah laku maupun yang disampaikan secara lisan dan tertulis. Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Observasi partisipasi
Observasi partisipasi atau pengamatan terlibat artinya peneliti ikut membaur dengan obyek penelitian. Pembauran ini harus menyatu sehingga masyarakat yang menjadi obyek tidak merasa bahwa mereka sedang diteliti.
2. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan untuk mendapatkan informasi mengenai apa yang mereka ketahui, terutama bagi mereka mengenai sesuatu yang tidak dapat kita peroleh dengan observasi. Wawancara yang dilakukan saat pertama kali dengan informasi berupa pertanyaan-pertanyaan umum atau grand tour, misalnya pertanyaan mengenai keadaan sanggar seni. Hal ini dilakukan guna membina rapport atau hubungan baik dengan informan sehingga pada wawancara yang berkaitan dengan penelitian, informan bisa terbuka karena sudah mengenal peneliti. Wawancara dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa pedoman wawancara. Pedoman wawancara bersifat terbuka sehingga dimungkinkan adanya jawaban yang bervariasi. Jawaban ini penting dengan tujuan agar menggambarkan secara lengkap perilaku para pemain gamelan.
3. Sekunder
Mengumpulkan data-data lain, misalnya berbagai buku yang ada dan juga monografi lokasi peneltiian dan informasi dari tokoh masyarakat untuk mendapatkan gambaran tentang keadaan sosial budaya masyarakat setempat.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan setelah informasi dari hasil wawancara di transkrip. Transkrip yang dilakukan bersifat keseluruhan, artinya setiap kalimat informan akan ditulis secara detail dan menyeluruh. Selain melihat dari hasil wawancara analisa data juga tidak bisa terpisahkan dengan melihat catatan di lapangan.
Field note berupa catatan tentang hasil observasi, hasil wawancara dan segala perilaku informan dan apa saja yang terjadi pada saat wawancara berlangsung dengan melihat catatan di lapangan dan hasil wawancara maka dilakukan suatu analisis.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masa
Sifat khas kebudayaan yang dimiliki masyarakat bisa diwujudkan dalam beberapa unsur yang terbatas dalam suatu kebudayaan, yaitu bahasa dan kesenian yang kuno. Selain itu sifat khas yang tersebar adalah adat dan kebiasaan dari setiap masyarakat yang mempunyai ciri sendiri : Menurut Koentjarningrat :
“Agar kebudayaan nasional dapat didukung oleh sebagian besar dari warga suatu negara, maka sebagai syarat mutlak sifatnya harus khas dan dapat di banggakan oleh warga negara yang mendukungnya (1993:108)”
Hal itu penn karena suatu kebudayaan nasional harus dapat memberi identitas pada warga negara tersebut. Selain itu sifat khas dan mutu merupakan unsur utama dari kebudayaan nasional Indonesia, yaitu kesenian. Kesenian dalam wujud kebudayaan dengan sangat jelas memperlihatkan keanekaragaman tradisi di tanah air kita. Disamping itu juga terdapat perbedaan-perbedaan kecil memperlihatkan ciri khas suatu kebudayaan dari bentuk dan perwujudan ini, seperti halnya seni pertunjukkan yang berpusat di keraton, permainan, hiburan, dan kesenian tradisional yang masih tetap hidup dan bertahan sampai saat ini mempunyai peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini dapat dipakai karena manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial yang secara naluriah ingin selalu bergaul dengan orang lain.
Dipandang dari cara sudut pandang kesenian sebagai ekspresi hasrat manusia akan keindahan itu dinikmati, menurut Koentjaraningrat (1985: 380-381)
ada 2 lapangan besar seni yaitu :
1. Seni rupa atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan mata
2. Seni suara atau kesenian yang dinikmati oleh masyarakat dengan telinga
Pada lapangan kesenian terdapat seni rupa dan seni patung, seni relief (termasuk seni ukir), seni lukis, serta gambar dan seni tari, seni musik ada yang vokal dan ada yang instrumentalia (dengan alat bunyi-bunyian) dan seni sastra. Lebih khusus terdiri prosa dan puisi. Suatu lapangan kesenian meliputi kedua bagian tersebut diatas adalah seni gerak atau seni tari, karena kesenian ini dapat dinikmati dengan mata maupun telinga. Akhirnya ada suatu lapangan kesenian yang meliputi keseluruhannya yaitu seni drama, kanena lapangan kesenian ini mengandung unsur-unsur dari seni lukis, seni musik, seni rias, seni sastra dan seni tari yang semuanya ditegaskan menjadi suatu kebulatan.
Kesenian seperti halnya musik gamelan adalah jalan satu bentuk kebudayaan yang dapat mewakili suatu keberadaan masyarakat yang beraneka ragam dalam pola perilakunya sehari-hari. Dalam sejarah kemanusiaan berbagai karya dan perilaku manusia bisa menjadi sumbangan pada terwujudnya suatu cara hidup yang memiliki ciri khas. Sehingga apa yang tampil sebagai perilaku karya manusia itu semakin kentara kaitannya dengan pandangan hidup tertentu yang dimiliki oleh kebersamaannya. Kondisi kebersamaan itulah yang nyata berpengaruh pada cara dan pandangan hidup yang berciri khas itu.
Masyarakat jawa adalah masyanakat yang fleksibel, adaptif, mempunyai jiwa seni yang tinggi seperti halnya seni musik gamelan seni dalam budaya jawa bukan hanya merupakan ungkapan keindahan. Tetapi juga mengandung suatu ajakan tertentu. Dalam masyarakat jawa bentuk kesenian musik tradisional gamelan adalah suatu kesenian yang mengandung makna dan nilai atau pandangan hidup yang dapat mempengaruhi pola perilaku kehidupan orang jawa. Keselarasan musik gamelan ini juga merupakan bentuk kesenian yang dapat menata segala kehidupan menjadi selaras. Keselarasan gamelan jawa menggambarkan pandangan hidup dan keseharian masyarakat jawa pada umumnya. Misalnya cara berbusana yang serasi (tidak kontras, tidak seronok, tidak selalu mencari perhatian). Keselarasan dalam berbicara meskipun sedang dalam emosi batin yang meledak-ledak. tetap berusaha santun dalam mengungkapkan isi hatinya. Ngonoyongono nanging aja ngono (begitu ya begitu tapi jangan begitu) adalah peribahasa jawa dalam mengungkapkan keselarasan dalam menahan emosi ( http://www.jawapalace.org//index.html.)
Gamelan merupakan hasil seni budaya asli bangsa Indonesia. Sejak dahulu hingga sekarang sangat digemari khususnya bagi masyarakat jawa. Gamelan merupakan seperangkat alat musik khas Indonesia yang kelengkapan instrumentnya dapat disejajarkan dengan simfoni orkestra di dunia barat.
Sebagaimana alat musik pada umumnya, gamelan merupakan hasil oleh budi manusia untuk mengungkapkan rasa etika atau rasa mencurahkan keindahan.
Keselarasan musik gamelan juga merupakan wujud dari kebersamaan masyarakat jawa yang mengutamakan kerukunan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka muncul permasalahan lain :
1. Apakah makna keselarasan musik gamelan jawa?
2. Nilai-nilai apakah yang ada di dalam makna keselarasan musik gamelan jawa?
3. Bagaimana kaitan antara makna dan nilai budaya jawa dalam keselarasan musik gamelan jawa dengan kehidupan sehari-hari?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah yaitu mendiskripsikan makna keselarasan musik gamelan jawa dan nilai budaya jawa yang terdapat dalam makna tersebut. Peneliti ini juga bertujuan untuk mencari kaitan antara makna dan nilai budaya jawa dalam keselarasan musik gamelan jawa dengan kehidupan sehari-hari anggota paguyuban.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian dalam masalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui nilai-nilai yang ada dalam makna keselarasan musik gamelan jawa.
2. Untuk mengetahui nilai-nilai yang ada dalam makna keselarasan musik gamelan jawa.
3. Untuk mengetahui kaitan antara makna dan nilai budaya jawa dalam keselarasan musik gamelan jawa dengan kehidupan sehari-hari.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Teori Kebudayaan
1. Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, yang isinya adalah perangkat-perangkat model pengetahuan, yang secara selektif digunakan oleh para pendukung atau pelakunya untuk menginterpretasikan dan memahami lingkungan yang dihadapi, dan digunakan sebagai referen atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi. (Suparlan, 1986:106).
2. Kebudayaan berarti suatu pola makna yang ditularkan secara historis, yang dijawentahkan dalam simbol-simbol, suatu sistem konsep yang diwarisi, terungkap dalam bentuk simbolis yang menjadi sarana manusia untuk menyampaikan, mengabdikan, dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang serta sikap-sikap mereka terhadap hidup. (Geertz dalam Dillistone, 2002:115).
Dengan memusatkan perhatian pada simbol-simbol keagamaan atau yang suci, Geertz memberikan paradigma ini : simbol keagamaan berfungsi mensintesiskan etos suatu bangsa, nada, watak, mutu hidup mereka, gambaran yang mereka punyai tentang cara ikhwal apa adanya, gagasan-gagasan mereka yang paling komprehensif tentang tatanan. Cara hidup dan pandangan hidup saling melengkapi, kepar kali melalui suatu bentuk simbolis. Hal ini memberikan gambaran tatanan yang komprehensif dan pada waktu yang sama mewujudkan pola sintesis perilaku sosial. Ada kongruensi atau kesesuaian antara gaya hidup dan tatanan universal dan hal ini terungkap dalam sebuah simbol yang terkait dengan keduanya.
3. Ada 3 hal nilai yang didasari oleh masyarakat Jawa dalam melakukan gotong royong ketiga tata nilai itu, pertama, bahwa orang itu harus sadar bahwa hidupnya selalu bergantung orang lain. Seseorang tidak dapat hidup sendiri dan untuk itulah seseorang harus menjalin hubungan baik dengan siapa pun. Kedua, orang itu harus selalu bersedia membantu sesamanya dan yang ketiga, orang itu harus bersifat konform, artinya orang harus selalu ingat bahwa seseorang sebaiknya jangan berusaha menonjol atau melebihi orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ketiga ini sejalan dengan manajemen gamelan bila mengiringi gendhing tidak baik bila salah satu mendominasi instrumen yang lain. (Koentjaraningrat dalam Bratawijaya, 1997:82-83).
Berkaitan dengan penelitian ini, permainan gamelan adalah suatu obyek, tindakan, peristiwa yang berperan sebagai wahana yang memiliki makna simbol dan nilai-nilai berupa pedoman yang memberi arah terhadap hidup termasuk aturan-aturan untuk bertindak yang bersifat khusus serta jelas. Selain itu untuk menelaah nilai-nilai yang dapat menunjang terbinanya pergaulan untuk suatu penyampaian kepada masyarakat meskipun secara lisan. Permainan gamelan ini merupakan suatu kerjasama yang dilakukan oleh beberapa orang untuk menciptakan suara musik yang harmonis. Hal ini juga tercermin di dalam kebudayaan Jawa yang memiliki prinsip gotong royong atau kerjasama yang dilandasi adanya kerukunan hidup untuk membina pergaulan di masyarakat. Tanpa kerukunan semua anggota inasyarakat, tidak mungkin gotong royong dapat terwujud.
4. Teori Interaksi Simbolik
Interaksi simbolik didasarkan pada tiga premis:
1.Manusia bertindak terhadap sesuatu atas makna yang dimiliki sesuatu atau benda-benda tersebut bagi mereka.
2.Makna merupakan suatu produk sosial yang muncul dalam proses interaksi antar manusia.
3.Makna-makna dimodifikasikan dan berlangsung melalui suatu proses penafsiran yang digunakan setiap individu dalam keterlibatannya dengan tanda-tanda yang dihadapinya. (Blumer, Herbert, 1969:1-60 dalam Craib,1994:1 12).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Sifat Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah metode etnografi. Metode etnografi merupakan suatu metode penelitian tentang suatu suku bangsa khususnya dalam penelitian ini adalah suku jawa. Dan bertujuan untuk menangkap sudut pandang dari para anggota paguyuban penggemar musik gamelan yang ada hubungannya dengan kehidupan dan dunianya. Oleh karena itu, peneliti etnografi mendeskripsikan suatu kebudayaan dan memahami suatu pandangan hidup dari suatu sudut pandang masyarakat yang diteliti dengan menggunakan istilah dan bahasanya sendiri.
Dalam hal ini yang diteliti adalah makna keselarasan musik gamelan dan nilai yang terdapat di dalamnya yang diinginkan oleh paguyuban seni karawitan.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam waktu 3 bulan, di mulai dari bulan Januari 2008 sampai dengan bulan Maret 2008.
Penelitian ini dilakukan di dua lokasi yaitu:
1) Sanggar Pakuwon Alit, di jalan Diponegoro nomor 68, Kelurahan Dr. Soetomo, Kecamatan Tegalsari, Kotamadya Surabaya.
2) Paguyuban Penggemar Seni Karawitan Renja Swara, Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur, di jalan Pahlawan nomor 102-108, Kotamadya Surabaya.
Peneliti memilih lokasi ini karena :
1) Sanggar Pakuwon Alit merupakan suatu tempat berkumpulnya para anggota paguyuban penggemar musik gamelan yang memiliki jadwal latihan yang intensif sehingga peneliti dapat memperoleh data yang lengkap dan akurat mengenai usulan proposal ini.
2) Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur merupakan suatu badan yang memiliki dan sarana bagi para penggemar seni budaya tradisional Jawa khususnya seni Karawitan untuk berkumpul dan berlatih bersama, sehingga pewarisan seni Karawitan kepada generasi berikutnya tetap dapat dilakukan.
C. Subyek Penelitian
Dalam penelitian etnografi mengenai makna dan nilai dalam permainan gamelan ini diteliti menggunakan informan sebagai sumber informasi penelitian. Beberapa informasi yang telah ditentukan antara lain:
1. 3 pelatih karawitan di Paguyuban Anggono Sari dan Paguyuban Renja Swara, yaitu Pak Slamet Raharjo, Pak Pitono, dan Pak Djarwanto.
2. 1 orang petugas kelurahan Dr. Soetomo, yaitu Pak Hamzah Fagri.
3. 1 orang koordinator Paguyuban Renja Swara, yaitu, Drs. Sugiri Soegir, Mm.M. Si
4. orang pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi, yaitu Pak Edi Agustanto dan Pak Suwamo.
5. 1 orang pengikut atau pembantu yang bekerja di sanggar pakuwon Alit, yaitu Pak No.
6. 1 orang Dosen Pengajar Sekolah Tinggi Karawitan Surabaya, yaitu Pak Subroto.
Dari sembilan informasi di atas peneliti berusaha untuk mencari dan mendapatkan informasi kunci (key informan) yang peneliti anggap paling banyak mengetahui dan memberi informasi tentang permainan musik gamelan serta makna dan nilai yang terkandung didalamnya, yaitu seorang koordinator paguyuban penggemar seni Karawitan Renja Swara Badan Perencanaan Pembangunan Jawa Timur.
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam usaha untuk mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, guna memperoleh gambaran mengenai gajala atau fenomena sosial budaya, baik dalam tingkah laku maupun yang disampaikan secara lisan dan tertulis. Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Observasi partisipasi
Observasi partisipasi atau pengamatan terlibat artinya peneliti ikut membaur dengan obyek penelitian. Pembauran ini harus menyatu sehingga masyarakat yang menjadi obyek tidak merasa bahwa mereka sedang diteliti.
2. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan untuk mendapatkan informasi mengenai apa yang mereka ketahui, terutama bagi mereka mengenai sesuatu yang tidak dapat kita peroleh dengan observasi. Wawancara yang dilakukan saat pertama kali dengan informasi berupa pertanyaan-pertanyaan umum atau grand tour, misalnya pertanyaan mengenai keadaan sanggar seni. Hal ini dilakukan guna membina rapport atau hubungan baik dengan informan sehingga pada wawancara yang berkaitan dengan penelitian, informan bisa terbuka karena sudah mengenal peneliti. Wawancara dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa pedoman wawancara. Pedoman wawancara bersifat terbuka sehingga dimungkinkan adanya jawaban yang bervariasi. Jawaban ini penting dengan tujuan agar menggambarkan secara lengkap perilaku para pemain gamelan.
3. Sekunder
Mengumpulkan data-data lain, misalnya berbagai buku yang ada dan juga monografi lokasi peneltiian dan informasi dari tokoh masyarakat untuk mendapatkan gambaran tentang keadaan sosial budaya masyarakat setempat.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan setelah informasi dari hasil wawancara di transkrip. Transkrip yang dilakukan bersifat keseluruhan, artinya setiap kalimat informan akan ditulis secara detail dan menyeluruh. Selain melihat dari hasil wawancara analisa data juga tidak bisa terpisahkan dengan melihat catatan di lapangan.
Field note berupa catatan tentang hasil observasi, hasil wawancara dan segala perilaku informan dan apa saja yang terjadi pada saat wawancara berlangsung dengan melihat catatan di lapangan dan hasil wawancara maka dilakukan suatu analisis.
DAFTAR PUSTAKA
Bratawijaya, Thomas Wiyasa. 1997. Mengungkap dan Menganal Budaya Jawa, Pradnya paramita. Yogya
Koentjaraningrat , 1992. Bunga Rampai “Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan”, PT. Gramedia Utama. Jakarta
Koentjaraningrat , 1990 . Pengantar ilmu Antropologi, PT. Rineka Cipta. Jakarta Santoso, hadi. 1993. Gamelan Tuntunan Memukul gamelan . Edisi Revisi, Dahara pri ze. Semarang
Suparlan, Parsudi. 1986 . Kajian-kajian Antropologi Masa Kini. Suatu Bangsa Rampai, Ikatan kekerabatan Antropologi Universitas Indonesia (IKALPI) Jakarta
(http://www//jawa.palace.org//index.html)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar